Seperti dipaksa untuk menutup mata melihat ke arahmu. Mau dan tidak mau, harus, dan ternyata tidak mampu. KAMU PERGI..
Kamu bilang, selalu bersama, dulu saat legenda ini baru kita rangkai satu babak.Kini??? kamu mendeklarasikan sebuah kemerdekaan sepihak tanpa aku. Kamu mandatkan aku untuk menamatkan kisah ini sendiri. Tanpa Kamu...
Tega, aku pikir kamu itu.
Kamu persembahkan sebuah hadiah terpahit di hidupku. Ingin sekali aku teriakan ketidakberuntunganku ini agar sang Elang terbang ke arahmu, mencakar-cakar paradigmamu lalu kemudian mencairkan keputusan tersadis yang kau ikrarkan padaku.
Bebas..Lepas...menjauh, terhantarkan oleh kebencianmu terhadapku. Kamu telah memvonis aku tentang sebuah karakter. Hipotesa sementara pun telah kamu definitifkan untuk melabeli aku dengan sebuah watak. Watak yang kamu takutkan secara berlebihan. Harus bagaimana aku menjelaskan??? Kamu terlanjur memilih untuk menjadi penunjuk arah utara, sementara aku terdampar di kutub selatan. Akankah selamanya kita semakin menjauh?
Takdirku, diam disini. Setangkai dahan yang lengang, gersang, tanpa warna dan keindahan (lagi). Dengan seizinku, kamu berhasil mencabik-cabik bunga-bunga disini, rusak...habis...hilang...yang tinggal hanya seonggok jamur beracun, destroying angel..!!!
Sementara itu, kamu lebih memilih menjadi pelatuk, bermisteri, terbang bebas. Dengan insting (tak berperasaan) kamu semakin bertolak mencari dahan-dahan lain yang lebih teduh, indah, kuat dan sanggup puaskan inginmu, pikirmu.
Menangis aku dalam hati. Labelku telah kamu lekatkan sangat erat di setiap sudut penglihatan dan pemikiranmu. Kamu memilih untuk bertindak pragmatis. Aku Salah, mungkin...
AKU TIDAK RELA!!! dan tidak akan pernah bisa merelakan kamu pergi..(dengan sebuah alasan). Dan pasti kamu tahu itu.
Tapi aku bisa apa??? Memohon? Kamu bukan Tuhan...Hendak mengirimkan sepucuk surat saja aku kepada-Nya. Memohon,, agar kelak Dia membisikimu tentang sebuah kenyataan. Disini ada aku, setangkai dahan terkuat yang telah terdustai dan terlukai. Diam,,,dan kediamanku ini hingga nanti adalah sebuah penantian yang akan berbatas pada 2 tepi "PEMBUKTIAN/ PENGKHIANATAN."
Cunduk waktu nu rahayu, niggang mangsa nu sampurna, niti wanci nu mustari...
Rabu, 21 Desember 2011
Rabu, 10 Agustus 2011
# ARUS..
Berbicara sedikit tentang hakikat sebuah arus. Seingatku, kata mereka, arus itu adalah kondisi bergerak. Lalu, apakah arus itu mengenal kita? Bukankah arus itu sebuah penghubung? Apakah dia memilah-milah tentang siapa dan kondisi bagaimana yang hendak terhubung? TIDAK sepertinya.
Arus itu bukan tanpa arah, tidak tentu arah bisa jadi. Disini yang membedakan antara tahu, pura-pura tahu, tidak tahu, atau pura-pura tidak tahu. Hei, aku sepertinya tidak masuk golongan mana pun. Sepertinya, aku tidak tahu kalau aku tahu, pura-pura tahu, tidak tahu atau pura-pura tidak tahu. Hufthhh,, ini mungkin definisi bingung dari seorang yang miskin pengalaman. Butuh bimbingan. Sempat proses pemikiran ini menghasilkan sebuah keadaan pasrah, sampai kapan? Sampai pada saat tidak ada lagi hakku atas pembelaan? Tolong, aku tidak ingin membentuk trio atas nama aku, terlambat dan penyesalan.
Arus, setauku arus itu adalah jelmaan dari sebuah hukum tarik menarik, 2 buah kondisi. Tidak pernah mengenal kondisi seperti apa keduanya dan materi apa yang menjadi obyek sasarannya. Arus itu egois, berjalan tanpa terpengaruh oleh pengekangan, paksaan, apalagi hanya sekedar himbauan. Seyogyanya, arus itu telah terbentuk secara natural, tetapi tidak sedikit jalur-jalur yang sengaja dibentuk sintetisnya oleh kaum-kaum "cerdik" ya...dan inilah yang disebut rel kehidupan, baik atau buruk. Yang natural dan menjanjikan kemaslahatan bisa jadi mungkin terkucilkan dan secara paksa dikedoki dengan wajah sintetis. Wajah yang menjanjikan kebaikan bagi sebagian atau banyak pihak tanpa memperhitungkan semakin banyak pihak yang tengah tersendat batu-batu besar di tengah arus yang deras.
Lalu, apakah bisa keberlanjutan tercipta bila keegoisan dilawan dengan keegoisan? Tentu tidak. Manusialah korbannya. Kenapa manusia? Ya…karena makhluk hidup lainnya tidaklah punya akal untuk mengerti arah serta kombinasi dari keadaan baik dan tidak baik.
Korban adalah pihak yang menanggung sebuah akibat. Ya, ketika kebaikan didapatkan, “diuntungkan” sepertinya tampak sebagai pilihan kata yang paling tepat. Itulah manusia, tidak sadar terkadang bahwa predikat manusia yang baik sedang dipertaruhkan. Bilang "tahu" itu juga susah bagi orang-orang yang masuk dalam golongan perumus dan pengesah arus sintesis. Asas simbiosis mutualisme gadungan menjadi andalannya, ya..lalu berkilah dengan segala perbendaharaan kalimat yang memesona. Ketidaksempurnaan manusia jadi tamengnya. Bila "tahu" tetapi pura-pura "tidak tahu" apakah bisa disebut sebagai bagian dari ketidaksempurnaan manusia? Bukankah itu namanya PEMBUAL? Hmmmh…entahlah..
Menjadi korban di antara berjuta kesadaran lalu "membawa" diri ke arah arus menuju kondisi yang lebih buruk, itu menakutkan. Namun, menjadi korban dari ketidaktahuan tentang arah sebuah arus dan "ter"bawa, itu yang jauh lebih menakutkan. Lalu apakah harus merelakan untuk mengorbankan? Tuhan… Engkau yang tahu niatku, serta baik dan buruknya untukku. Tunjukanlah…
Label:
curhatan
Senin, 08 Agustus 2011
# Teruntuk kamu
Teruntuk kamu, kelak, makhluk yang tercerna baik oleh akal seorang manusia, “AKU”. Disini, terhantarkan dengan kemantapan hati atas ridho-Nya, mampu berposisi, membaca kebutuhan hati, melengkapi. Mendampingiku berotasi, menyingkap makna tentang berjuta perbedaan. Menyaksikan kenyataan hidup yang senantiasa bergerak, dinamis. Punctum proximum hingga punctum remotum dalam rentang sebuah pandangan, berakomodasi, kamulah pembimbing, harapku.
Teruntuk kamu, tanpa sebuah tuntutan untuk terlihat sempurna dimatamu, aku pun tak menuntut sempurnamu itu untukku. Bukan kamu atau pun aku. Sempurna itu adalah KITA. Di saat aku berkata “tidak” sedangkan “iya” adalah milikmu, kita akan berkata “TUKAR” lalu equilibrium pun tercipta untuk kita.
Baik, tentang semua hal yang kasat mata, bilang pada matamu, bahwa mataku tidak pernah melihat matamu dalam melihat aku sebagai sebuah morfologi. Ini bukan tentang financial statement yang mengharuskan adjusting entry untuk adjusted trial balance, penyesuaian aku terhadap inginmu tidak ada untuk hal ini, INILAH AKU. Yakinkan pula, bahwa matamu tidak pernah melihat mataku dalam melihat kamu sebagai hal yang sama, ya…tidak perlu juga ada penyesuainmu untukku, ITU KAMU, dan aku suka kamu.
Dan teruntuk kamu, ceritakan padaku tentang sebuah hikayat yang hendak engkau ciptakan bersamaku. Mulailah dengan sebuah sebab, mengapa kita bersama. Jangan hendak menciptakan hukum baru bahwa akibat itu dapat berdiri sendiri. Mustahil. Ingat, dewasa itu adalah sebuah kejujuran, kejujuran yang bertanggungjawab, semestinya. Katakan saja sebuah alasan, paling tidak, karena nanti “tanpa alasan” pun dapat menjadi alasan untuk suatu keberakhiran, takutku. Ungkapkan, karena itu adalah hak setiap burung untuk hinggap di mana saja, dan aku punya duri, tersembunyi, hak ku pula untuk melukaimu, yang hendak lukaiku. Berangkat dari sebab itu, rangkaikanlah untukku kalimat-kalimat bahagia, tanpa mengenal titik. Mustahil? Tidak! ini sebuah hikayat dengan imajinasi dan logika tanpa batas. Tentang kita.
Terakhir, teruntuk kamu, pilihku dan pilihanku. Keliling bumi itu terbatas, sudahlah pasti jalan berliku. Pilihku, kutumbuhkan pohon-pohon rindang sebagai pembatas di sepanjang perjalanan. Pilihanku, tunjukanlah sebuah rute menuju rahmat-Nya, tuntun, genggam, tanpa henti. AKU DAN KAMU. :D :) ;)
Label:
curhatan
Kamis, 26 Mei 2011
# Tentang sebuah "KETEPATAN"...
Takut, melihat ke arah itu, secara tidak tepat pun dengan antara beberapa derajat, sama saja…GETAR. Perfusi terhambat. Sempat berdiskusi dengan sirkulasi oksigen, belum selesai… terjerat kembali ternyata dengan sebuah kemungkinan. Arghhhhh…harus bagaimana? Menyangkal pun, munafik pun, pura-pura pun, aku yang tau sekenario ini, ya..sekedar tau. Tidak untuk mengatur, “kadang”.
Menemukan rangkaian huruf vokal (lagi), mengadopsinya dalam penyempurnaan arti. Tidak selamanya tepat itu terjadi karena sebuah kelengkapan, ya… ada formasi, peletakan susunan yang menentukan fungsi itu benar. Rekayasa untuk terlihat sempurna dan layak? Kesalahan terdahulu pelajarannya…seharusnya!!!
Menimbang…menghilangkan diri atau menghilangkannya ? Seperti hendak membuat satu musim saja di bumi,,,hufthhh..merugi aku nanti.
Untung, rugi… ?? Hidup itu pertukaran. Jalani sajalah dengan yakin. Dengar aku sebentar kawan, yang menarik saat ini adalah tentang ketertarikan. Bermula dari manakah? obyek atau subyek? Ditarik atau membuat menjadi tertarik? Hukum tarik menarik itu ada di alam semesta, tolak menolak pun begitu katanya. Lalu, bisakah memilih untuk mana kedua hukum ini bekerja? Ah,,,enak saja!
Terlepas dari sebab, alasan dan teman-temannya, nampaknya sudah tidak ingin merasa-rasa dan memikir-mikirkan sebuah “ketertarikan” tapi lebih pada sebuah “ketepatan”. Ya, aku tertarik! Karena APA? Ulah siapa? aku atau dia? Entahlah..tidak mau terlalu dalam menggalinya karena bicara soal rasa, akan kembali pada kondisi tidak mengerti lagi nanti, abstraksi-nya begitu membingungkan. Lebih baik mengalir….dan bermuara nanti pada dua kenyataan : “TEPAT” atau “TIDAK TEPAT”….:-D :-) ;-)
Label:
curhatan
Sabtu, 30 April 2011
# MAAF belum memaafkan...
Mematahkan kejujuran, Bijak?
Ketidabergunaan, kepercumaan, tidak ada harusnya!
Probabilitas itu tak menjumpai nol, yakin aku.
Lalu, TAKUT? Ahhh,,,lihat sekarang jadinya!
Metafora lalu, Tak terkaji,
Untuk kamu, denotasi jauh lebih baik!!
Terjemahkan aku. Dari dulu, berhasil kamu.
Sebaliknya, terjemahkan kamu. GAGAL!
Retorika kosong nyatanya.
Bermotivasi—sepertinya--entahlah…apa di balik sana.
Sebenarnya.
Keberanianku pun ditangani dengan salah oleh kamu..
Kemudian, akhirnya? Tidak adalah tanpa mulai.
Menyesakkan, pastinya.
Kamu, karena kamu.
Seharusnya, seharusnya, seharusnya..
Banyak kondisi salah di sini.
Erupsi produknya…
Coba berani membuat sebuah retakan, jalan, dulu..
Keluar…
Lelehan tanpa ledakan!
Berbeda sakitnya, pasti.
Faktanya!
Sempat memiliki yang tak termiliki.
Merasakan yang tak terasa.
Dengan tidak sadar,
dan tanpa disadarkan. JAHAT.
Kata-kata, mudah terangkai pun untuk dilontarkan.
Termasuk MEMAAFKAN.
Namun, separatisme dari unsur hati ini luar biasa berdaya.
Penolakan, mencari arah dan kebijakan sendiri
Jujur, belum bisa sepertinya..MAAF...
Label:
curhatan
Minggu, 24 April 2011
# Bangkit itu SUSAH,,tapi BISA!!!
Memori, salah satu unsur pembentuk perasaan. Meyakininya, ya 100%. “Aku ingin lepas dari semua ini!!!,” TIDAK! Bukan aku itu. Memori itu masih ada saat ini, tentang goresan kemarin. Lepas dari apa yang harus dihadapi saat ini, adalah suatu bukti ke-pengecut-an. Kesini, kemari…aku ingin berdamai saja dengan keadaan ini, tentu dengan kamu. Memetik hikmah, tidak ternikmati saat ini, tak apalah. Nanti, akan aku tanam kembali hingga tumbuh menjadi kenyataan yang benar-benar berprospek. Setidaknya, dengan buah yang lebih lebat. –TUJUAN-
Mencari letak perbedaan antara “susah” dan “tidak bisa” aku sekarang. Susah adalah satu keadaan sebelum bisa dan tidak bisa, sepertinya. Namun, Apakah tidak bisa selalu didahului dengan susah? Tidak, semoga. Ahhh,,yang jelas “susah” dan “tidak bisa” adalah sangat berbeda. Lalu, kunamai apa kondisi sekarang? Hanya berhenti pada susah lalu menyerah? Hendak melakukan kesalahan dua kali itu namanya. Fokus, fokus, fokus! Meletakannya pada kata BISA adalah pilihan terbaik. Ya…SUSAH tapi BISA..!
Bangkit.. katanya, “bangkitlah (n+1) kali, dimana “n” adalah jumlah terjatuh”. Berfikir, kenapa +1 itu harus ada? Bukannya kita akan bangkit ketika kita terjatuh? Equal seharusnya. Luput aku dari kenyataan bahwa hidup memang selalu dimulai dari kata bangkit. Bangkit, jatuh dan bangkit. Satu paket! Tidak untuk dimaknai dari kombinasi yang berbeda, tentunya…karena penafsirannya pun akan jauh berbeda.
Bertamasya sejenak, mengamati fenomena bola terjatuh. Ya, momentum, bertumbukan. Terjatuh, aku pun karena sebuah keadaan, kamu dan dia (mungkin), Kemudian tumbukan itu, tidak lenting, lenting sebagian, atau seluruhnya? Aku sangat berharap ada kelentingan disini, lalu..akankah aku seperti bola itu? Bangkit kembali, lihat… TERBATAS! ada koefisien restitusi disini. Umumnya, akan tidak bisa pantulan itu melebihi ketinggian semula. Haruskah aku puas dengan keadaan maksimal yang sama dengan kemarin? Ya…tak apalah, akan kuperjuangkan koefisien itu bernilai satu. LENTING SEMPURNA..
Sebentar… bukankah hidup itu sebuah proses? Proses dengan perbaikan dan perbaikan (seharusnya). Lalu, kenapa aku berfikir untuk mencapai keadaan yang sama? Bukankah itu yang disebut merugi? Perlu sebuah revisi di sini. Keluar aku dari fenomena “umumnya” tadi. Peristiwa itu, pengalaman itu, memori kemarin (sebab jatuh), bertanggungjawabkah kamu??? Hingga kemudian menghentikan setiap pantulan ini? menggenggam kuat-kuat aku lalu melemparkan kembali kepada kedudukan lebih tinggi dari semula? Ahhh…MUSTAHIL..tidak ada niatan ke arah itu kamu sepertinya.
Lalu bagaimana? Bermain-main sajalah aku dengan pikiran positif. Hingga dengan sendirinya mampu menjadi sumber energi, memberikan kecepatan tambahan pada pantulan berikutnya. Atau, lebih sempurnanya lagi, aku pun menemukan sebuah titik pantul pada bidang yang dinamis, bergerak, berkecepatan. Senantiasa menyadarkan aku, mendukung aku dan memungkinkan aku untuk mencapai satu tingkat lebih dalam sebuah kedewasaan. Terciptalah sebuah pantulan yang luar biasa. ya…karena koefisien itu pun akan mampu melebihi satu. Terpikir sempat, SUSAH memang, tapi BISA!!!..Insya ALLAH.
Label:
curhatan
Minggu, 10 April 2011
# Kembalikan biasanya...
Mencintai…
Pilihan? Bukan! Tapi, jauh lebih baik tidak ada sajalah. Bukan karena takut, tapi menggenggam sebuah keberanian pun aku sudah bisa menebak imbasnya. Sebelah hati.
Mengerti…
Aku inginkan kamu --pria yang kumaksud-- membuka mata, sejenak lihat aku, luka. Berharap untuk terobati? Tidak… mengerti aku bahwa ini adalah sebuah keadaan cacat, sebaik apa pun nanti sebuah kenyataan.. akan tetap disini, menyakitkan. Berusaha membalut, sendiri, biar tanpa kamu. Tak ada kesembuhan, kepercayaan diri, hilang.
Mengharap…
Menjadi manusia tanpa “harapan” itu tragis. Tapi sekarang..menjadi manusia dengan “harapan” adalah jauh lebih tragis. Harapan tentang kamu! Mengumpulkan tenaga sekuat-kuatnya sekarang aku. Kembali meyakinkan diri bahwa manusia bodoh tentang apa yang dibutuhkannya. Keinginan itu, harapan-harapan kemarin, kamu, menyakitkan sangat. Sampai kapan? Haruskah dipertahankan bila hanya aku yang SADAR? Tuhan…ikhlas..ikhlas..ikhlas…berikan aku itu. Kerelaan.
Salah siapa?
Aku…MUTLAK!!! Menyalahkan aku atas ini semua, rasanya adalah kalimat yang sangat salah. Tapi, jauh lebih salah bila kamu kusalahkan. Ini keadaannya. Mengartikan sebuah keindahan dengan penafsiran tak berlogika. Aku pikir apa? Indah? Menyenangkan? Nyaman? Bahagia? Untuk apa? SAKIT?!!! Bodoh aku..memang. Mengulang lagi sebuah kebodohan? JERA.
Keliru…
Bila ini ujian. adalah saat terhancur dalam semua ujian. KELIRU. Sempat di sana aku, dalam sebuah keadaan penuh cahaya, warna, indah. Ternyata, tanpa kesengajaan (mungkin) kamu telah meminjamkan aku sebuah mimpi kemarin. Hanya MEMINJAMKAN. Ya, sekarang itu hak kamu. Ambil saja! Abaikan aku! tidak ada cara yang lebih bijak lagi.Biar…
Kepercayaan diri…
Tanpa arah. Bantu aku (untuk selain kamu) menemukan kembali diriku. Biasanya, aku tidak selemah ini. Biasanya, aku tidak serentan ini. Biasanya, senyum itu, semangat itu, optimis itu, ada disini. Ingin kembali kepada biasanya itu. Butuh waktu…butuh kamu? Tidak tau!
Keikhlasan..kesabaran...
Kembali kepada kedua kata inilah yang terbaik. Klise memang, biarlah. Berada dalam posisi HARUS berhenti. ya, BERHENTI! Bisakah bergandengan tangan itu melebihi 2? hei... jalan ini setapak..sempit..terlalu bodoh untuk melebarkan jalan ini..jurang di kedua tepinya. Majulah saja..biar saja aku berada di belakang, lalu melakukan invers dari arah semula. Bukan MUNDUR, hanya sedikit kembali untuk menemukan rute lain yang LEBIH LAPANG, TENANG, DAMAI, dan dapat dipertanggungjawabkan dengan benar.. InsyaALLOH...
Label:
curhatan
Sabtu, 19 Maret 2011
# Bisakah sama???
Keinginan, jelmaan dari konflik bathin dalam mempertentangkan ambisi perasaan dan kejernihan pikiran. Masih belum mengerti apa ini akan menjadi sebuah kebaikan? atau sesungguhnya ini telah sampai pada tepi itu? Selamatkan, tetapkan aku pada arah dan tempat yang semestinya. Kejelasan dan kestabilan. Tidak mau aku seperti elektron dalam teori atom bohr, pindah lintasan, keluar, tereksitasi.
CINTA, nonrivalry, non excludable!! kenapa? karena kita SEMUA adalah pemiliknya. Adalah sebuah hak, menciptakan rongga dalam nurani, sebuah tempat yang akan menjadi titik kebahagiaan. SEHARUSNYA! Lalu mana? Apakah hukumnya akan sama ketika rongga itu hanya terbentuk disini (dan kosong)? Tidak, saling mengisi adalah syarat mutlak. Bisakah, kamu pun membuat rongga disitu dan kita dapat saling berkunjung kelak? perlukah aku meminta? ahhh…percuma, sepertinya ketidaksamaan adalah kondisinya sekarang. Menyamakan itu bukan kapabilitas aku, sungguh. Seperti berada pada sebuah ruang sempit, pengap, sesak, tidak tahu harus berlaku apa agar yang bernama keinginan ini terwujud. Sebuah harapan, kamu memintaku beranjak, menggengam tanganku, dan mengajakku pergi. Entah kemana, tidak disini.
Bisakah sama, atau minimal kita menyamakan inginku dan milikmu serta milikku dan inginmu? Atau sederhananya kita membuat visi bersama? Merekap catatan kita masing-masing yang berbunyi, “aku ingin ini…aku ingin itu…,” lalu mengkonsolidasikannya menjadi “kita ingin begini…”???. Kemudian, membuat sebuah perencanaan, parameter-parameter yang dapat mengarahkan kita untuk berkata, “inilah yang harus kita capai, nanti.” Merumuskan sebuah perhitungan matematis, memilih variabel-variabel yang relevan, lalu mendiskusikan hasil perhitungannya untuk kemudian menyimpulkan arah dan ruang gerak kita kedepan. Bersama? Karena tidak mustahil bila satu sama lain adalah lebih profesional dalam hal tertentu. Disini perlunya sinergi, berjuang bersama, mendekati sebuah keadaan ideal menurut kita. Kemudian, saling mempercayakan tentang segala pertangungjawaban fisik maupun nonfisik.. Ahhh…MIMPI!!! itu hanya ada di benakku. Percuma…
Tidak bisa, tidak akan pernah bisa aku menetapkan keinginanmu menjadi sama denganku. Karena kita sama-sama manusia. Terbatas, dengan isi kepala dan perasaan kita masing-masing. Berharap, tiba-tiba ada yang membangunkan jembatan penghubung di antaranya. Atau setidaknya, aku tau dimana bisa kujumpai burung atau sejenisnya yang mau sejenak meminjamkan sayapnya. Terbang, ke arahmu lalu segera mempelajari tentang sinkronisasi aku dan kamu. Susah juga? Menyerah? Bukan…!!! Tepatnya, aku tidak mau menjadi egois. Tuhan yang tau tentang kebutuhan yang sesungguhnya. Sedih,…memang, disitulah Tuhan menciptakan pembelajaran untuk mencapai kebahagiaan.
Sekarang, hanya ingin bersama orang-orang yang bisa menjadi penuntun, meyakinkanku bahwa selalu ada cara untuk bahagia. Ya, SELALU!!! Ya, yang ada cuma aku dan keinginanku saja, kamu tahu tentang ini seharusnya, dan ini percuma! Tidak ada keselarasan itu, ajarkan aku untuk tetap bisa tersenyum dan memandang ke arah yang berbeda. Mendapati kebahagiaan-kebahagiaan lain, tanpa kamu, tanpa kita, tanpa mimpi.
Label:
curhatan
Minggu, 06 Maret 2011
# Ini itu NYATA...
Aku Tanya sejak kapan? Sejak kapan kamu ada disini? Berani membentuk origami-origami.,,,beraneka warna dan rupa. Cepat, meradang. Sadar? Banyak kemungkinan terjadi disini. Mungkin, bentuk itu akan tetap sama..INDAH, tapi warnanya pun kusam nanti, berdebu. Kenapa? karena kau bersahabat dengan khilaf itu. MENGABAIKAN. Atau mungkin, rentang ini, kau tengah bermain di bawah sadar. Terlampau jauh. Pernah berfikir? sekeras apa kau berusaha mengembalikannya lagi, nanti, lipatan itu membekas disini. Semula seperti apa? Hebat seperti apa kamu?!!
Sebenarnya, semacam bermain rubik saja ini. mana sisimu, merah, biru, kuning, hijau, putih, orange??? Berusaha, susah aku berfikir, bisa berimpitan dengan sisimu, tapi tidak, tidak dengan tiga sisi yang lain. Bagaimana bisa? Selalu hadir sisi-sisi yang lain. Tidakah bisa kamu hanya menjadi sebuah garis lurus lalu kemudian aku tambahkan satu garis. Ya, cukup dua garis yang membentuk satu sudut. AKU dan KAMU.
Entahlah, terlalu bodoh atau bagaimana kamu. Terbentuk ini disini, di hatiku. Perasaan berbeda (NYATA). Berhasil, bekerja dgn baik feromon itu dari arahmu. Sengajakah? Tidak? Kamu yang tau!
Harusnya, kamu paham, ini SESAK!!! Menyimpan sesuatu yang aku ingin kamu memahaminya. Berjuang, keras aku memberikan sengatan-sengatan, pertanda, untuk apa? Agar kamu tau hatiku. Apa hasilnya? NIHIL. Kamu memang bodoh, atau pura-pura? JAHAT kamu! Mungkin, lebih tepatnya aku yang bodoh. Menyukai lebih dulu itu beresiko. Ya, harusnya, tidak pernah ada semua ini. Harusnya, aku paham terlalu banyak ketidakpastian dalam sikapmu. Aku telah keliru mengartikannya. Harusnya, harusnya, harusnya…lalu bagaimana sekarang??? Kembali, tolong, bantu aku kembali ke waktu dimana kenetralan itu ada.
Pergi, lelah juga aku dengan perasaan – perasaan diferensial. Cemburu, terabaikan, ingin didahulukan, merasa memiliki, ahhhh…SIAPA AKU??? Bila kamu saja tak perduli dengan ini. Tidak tau mauku. Tidak tau harus bagaimana aku. Akan membaik bila kamu tau? Setidaknya, satu hal akan pergi “KETIDAKPASTIAN”.
Label:
curhatan
Senin, 21 Februari 2011
# Aku ini manusia..(JUGA)
GALAU, negosiasi dekonsentrasi dan tugas pembantuan pemerintah pusat dan daerah tanpa dipaksakan! Bila sanggup, katakanlah iya. Bila tidak, sebagai apa “MENYURUH itu memaksa”? Tidak ada etisnya. Saat ini, aturan itu membalik…IYA, hanya satu yang ada. Tidak ada kata yang mengantarkan kepada ke-TIDAK-an. Tak ada kuasa. harus menerima, memang ini yang telah bersarang di sini…Money follow function. Uang? petunjuk? departemen teknis? Apalah itu…yang ada hanyalah satu disini, tak ada penolakan, semakin menyebar, luas, konstruktifkah? Hmmmh…mengarah ke destruktif nampaknya. Buat apa? Ingin mengelak, mengembalikan, menetralkan, SUSAH!!! SANGAT!!!
Pagu indikatif…kau cipta mungkin. Cobalah bertanggungjawab…padankan dengan prinsip realisasi, defintif. Kenapa? seolah-olah kamu tak peka dengan itu. Kamu dan perkiraanmu, perhitunganmu sendiri. EGOIS. Liriklah sejenak yang terjadi disini, saat ini, ADA HATI.
SKP-RTD (Surat Keputusan Rincian Transfer ke Daerah), terinci…jelas, setiap provinsi, kabupaten, kota dengan bagiannya. Dibuat seadil-adilnya katanya. Untuk itu, kuminta, saat ini bertindaklah sebagai Kuasa Pengguna Anggaran transfer ke daerah (DJPK). Jelas, berlatar belakang, beraturan. BERTUJUAN!!!, pasti. Ingin itu, hingga satu persatu fakta benar-benar tampak jelas tentang apa maumu, apa maksudmu. Porsi itu, tak mau hanya sebatas permainan seenaknya, merugikan, buang-buang waktu. Terlebih lagi, MENYAKITKAN.
Karena aku ini manusia (juga), terkadang…susah mencapai konsistensi untuk tidak larut dalam kebahagiaan yang berlebihan, kesedihan yang seakan-akan tak berujung. Karena satu rasa ini sangat erat dengan itu yang disebut EMOSI. Rasa yang tak seharusnya berlagak menjadi SP2D, yang seolah-olah akan menjadi muara kebahagiaan bagi proses perjalanan APBN-DIPA-(SKP-RTD)-SPP-SPM. Kenapa? ingat…daftar penerima anggaran, surat pernyataan tanggung jawab belanja, dan Arsip Data Komputer HARUS terlampir pada SPM. Pesimis disini, tak mampu, tak sanggup…harus menyusun helai demi helai fakta yang menunjukan ke arah situ. Terlalu abstrak, kau buat aku berspekulasi. Hingga semakin negatif aku menilai semuanya. Adakah rasa itu disana, rasa yang harmoni dengan disini??? Hingga terpikir olehku, lepas, hempaskan, kembali, tak perlu ada kebahagiaan itu, ini hasilnya, “TAK ADA HASIL”. Setidaknya, aku semakin mengerti bahwa inilah definisi hidup, tak jauh dari kata IYA dan TIDAK. Tidak ada ruang dan waktu yang lama untuk apa yang disebut dengan keraguan dan kegalauan. PERGI!!!-.-‘’
Label:
curhatan
Rabu, 26 Januari 2011
# Bahagia itu SAYA
Kembali, dengan niat yang insya ALLAH tidak lain dan tidak bukan adalah suatu jalan perbaikan diri. Memberi, bukan sekedar itu. Di sini secara tidak langsung justru saya pun sedang mengkonsumsi sebuah nutrisi yang sungguh setiap inci di tubuh saya sangat memerlukannya. Vitamin kehidupan yang tidak terkandung secara terang-terangan dalam objek yang nyata. Melainkan, sebuah nyawa dari peristiwa yang orang sebut dengan takdir. Sebuah partikel halus yang dapat membimbing manusia mempertemukan dirinya dan kebahagiaannya.
Bahagia, orang sebut sebagai suatu perasaan yang menggairahkan dan membawa sel-sel di otak ke sebuah keadaan yang sangat menyenangkan. Padahal, saya berani bertaruh bahwa kebahagiaan itu bukan kesenangan. Mereka sangatlah berbeda!!! Kesenangan adalah merupakan penjelmaan dari sebuah keadaan yang nyaman, sebuah produk yang dicapai dari hal-hal yang bersifat fisik. Iya,,,sementara, tidak abadi, tidak langgeng. Datang dan pergi dalam sekedipan mata. Saya senang bermain musik, saya senang berolahraga, saya senang shopping, saya senang jalan-jalan. Tapi apakah senang itu akan terus ada? Apakah selama hidup kita shopping, jalan-jalan, olah raga? Tidak…hidup itu majemuk, hidup itu rangkaian, ya…proses bertahan, orang bilang. Ya, berhati-hatilah karena kesenangan sering menyamar menjadi kebahagiaan. Lalu, apa bedanya dengan kebahagiaan???
Kebahagiaan adalah SAYA. Jangan mencoba untuk membaliknya…karena akan jauh berbeda maknanya. Lebih luasnya, kebahagiaan adalah saya, otak saya, pikiran saya, dan perasaan saya. Ya, kebahagiaan itu “diciptakan” bukan “tercipta”. Kebahagiaan adalah suatu kesengajaan yang dapat diperjuangkan, bukan hanya sebagai sebuah respon yang pasif. Ya, kebahagiaan adalah bukti kecerdasan kita. Kecerdasan dalam memanage setiap stimulus dan menghalangi pembatasan amigdala terjadi. Pembatasan input menuju sel-sel neurotik (otak yang berpikir). Ulah amigdala inilah yang sering menghalangi pikiran jernih kita untuk mengendalikan respon secara lebih bijaksana, emosilah outputnya. Lalu, apakah kita harus bergantung pada kesenangan? Tidak!!! Justru penderitaan yang akan lebih banyak kita dapatkan. Perasaan memang sangatlah polos, ya…dia ibarat anak berumur tiga tahunan yang siap untuk menirukan apa yang orang lain perintahkan untuk disuarakan, dalam hitungan detik. Orang tuanya, dialah yang bertindak sebagai PIKIRAN, penuntun seharusnya. Tentu saja, bila dapat bertugas dengan baik.
Takdir? Adakah sebuah kepasrahan? Lauhul mahfuzlah yang berhak berbicara, Namun, sang Pencipta telah memprogramnya sebagai suatu dokumen rahasia . Legalnya, hanya Dia-lah yang mengetahui password-nya. Tidak usah membicarakan yang tidak legal di sini, ya…yang hendak dibicarakan sekarang adalah perihal takdir. Mengutip kata-kata Charles Reade :
Taburkan benih pikiran, kau akan menuai aksi
Taburkan benih aksi, kau akan menuai kebiasaan
Taburkan benih kebiasaan, kau akan menuai karakter
Taburkan benih karakter kau akan menuai takdir
Apa yang disebutkan di atas menegaskan bahwa sesungguhnya kitalah yang diberi wewenang untuk mengusahakan takdir. Nasib kita ada di tangan kita, lebih tepatnya ada di pikiran kita. Kekuatan terbesar kita ada pada memilih pikiran-pikiran. Ya, dari pikiranlah semuanya bermula. “Pemikiran yang baik tidak pernah membuahkan hasil yang buruk, pemikiran yang buruk tak pernah membuahkan hasil yang baik.”
Kita hebat karena kita bisa mengelola pikiran kita, begitulah singkatnya. Seingat saya ada dua teknik dalam mengelola pikiran. Yang pertama adalah mind booster, dan yang kedua adalah teknik lima kotak.
Mind booster, sebuah teknik pengelolaan berbasis 2 jalur. Pikirkan hal atau pikiran-pikiran yang berbau negatif lalu kemudian kita sulap menjadi positif. Hmmmh,,cara ini paling simple karena hanya melibatkan pikiran-pikiran saja. Apa yang disebut perasaan belumlah terwakili di sini. Berbeda dengan teknik mind booster, teknik lima kotak lebih luas lagi. Pilihlah sebuah kondisi, lalu telaah perasaan awal, lalu kemudian berlanjut ke pikiran, kemudian merenovasi pikiran tersebut menjadi pikiran yang baru dan pada akhirnya mampu menciptakan perasaan yang baru, lebih positif tentunya.
Pikiran-pikiran yang positif senantiasa melahirkan kebahagiaan. Kalimat ini murni adanya, tanpa rekayasa. Kebahagiaan yang tidak akan pernah termakan oleh hal-hal sepele yang terkadang dilebih-lebihkan. Ada rahasia di balik kebahagiaan itu sendiri. Rahasia yang seharusnya dibongkar dan disebarkan kepada seluruh umat di dunia. Energi-energi positif pun niscaya terpancar dari alam semesta ini.
Orang yang berbahagia adalah orang yang dapat berdamai dengan dirinya sendiri, orang lain dan dengan Tuhannya. Konsep ini terangkum dalam the 7 laws of happiness karya Arvan Pradiansyah. Intrapersonal relation, interpersonal relation dan spiritual relation. Pola 3-3-1 digunakan dalam perumusan rahasia ini. 3 syarat dalam intrapersonal relation, 3 syarat dalam interpersonal relation, dan yang terakhir 1 syarat dalam spiritual relation. Semuanya itu adalah wajib. Harus ada dan saling berkesinambungan. Ketika syarat satu terpenuhi barulah kita dapat melengkapi syarat selanjutnya.
Intrapersonal relation, mengusahakan kita untuk menjalin hubungan baik dengan diri kita sendiri. Berdamai, bersinergi dan bergerak bersama menuju tujuan inti hidup kita. Berdamai dengan diri kita sendiri itu tidaklah mudah, terkadang kita sendiri mengecap diri kita sebagai makhluk yang bodoh, tidak berguna, dan tidak berdaya. Inilah pikiran yang salah. Di setiap penciptaan pastilah ada makna. Ya, kita sangat berharga! Tiga rahasia dalam penciptaan hubungan ini adalah sabar (patient) , syukur (gratefulness) dan sederhana (simplicity).
Sabar bukan berarti tidak bergerak, sabar adalah kata kerja aktif. Sabar adalah sebuah produk dari penundaan respon dengan lebih dahulu meyakinkan mana respon yang paling tepat untuk dikeluarkan. Sabar adalah sebuah kekuatan yang maha dahsyat. Kesabaran kita akan meningkat melebihi kekuatan kita, begitu kata Edmund Burke. Sabar juga yang menyatukan badan dan pikiran di satu tempat, menikmati proses tanpa terganggu dengan hasil akhir. Setelah bergelut dengan sabar saatnya kita mensyukuri apa yang Tuhan gariskan untuk kita, Ya..syukur.Tiga musuh besar bagi manusia adalah penyesalan di masa lalu, ketakutan akan hari esok dan tidak adanya rasa syukur untuk hari ini. Bahasa negatif seperti itu harus dimusnahkan. Untuk mensyukuri kunci utamanya adalah pikirkan apa yang ada hari ini, bukan semata-mata apa yang diinginkan. Bahkan di saat kita susah sekalipun bersyukur adalah hal yang diharuskan. Perasaan kehilangan mungkin menyedihkan, tapi renungkanlah bahwa “if you loose, don’t loose the lesson” bersyukurlah!
Interpersonal relation, setingkat lebih tinggi dari intrapersonal relation. Ketika intrapersonal relation merujuk pada penerimaan, interpersonal relation merujuk pada apa yang kita berikan terhadap orang lain. Tiga rahasia dari interpersonal relation itu sendiri adalah kasih (love), memberi (give) dan memaafkan (forgive).
Kasih atau cinta, kata yang sangat populer dan menjadi tema populer di kalangan sinetron, lagu, novel. Pokoknya, tema yang tidak ada matinya. Lalu, cinta yang bagaimana yang dimaksud dsini? Bukanlah cinta birahi tentunya. Namun, cinta yang berasal dari nurani. Sebuah perasaan untuk bisa memahami yang lain sejajar bahkan melebihi diri sendiri. Abadi tentunya. Bahasa kasih adalah memberi, tentu saja. Ketika kita berani mengatakan mencintai berarti kita harus menjalankan konsekuensinya untuk berbahagia bersama orang lain atau lebih tepatnya lagi membahagiakan orang lain. Level dari pemberian itu sendiri ada empat tingkatan. Urutan terendah ditempati oleh materi lalu kemudian perhatian setelah itu kesempatan dan level tertinggi adalah pemberdayaan. Rahasia yang terakhir dalam perwujudan interpersonal relation adalah memaafkan. Sungguh, memaafkan orang yang telah membuat luka di hati kita adalah sulit. Namun, ketika kita tidak mau memaafkan orang lain hanyalah merugikan diri kita sendiri. Apakah dengan tidak dimaafkan lantas hati kita tidak akan merasakan sakit? Atau kita bisa kembali dan mencegah keskitan itu terjadi. Bodoh rasanya. Yang perlu digarisbawahi adalah memaafkan tidaklah sama dengan melupakan. Ya, tetaplah mengingat moment itu dan jadikanlah sebuah pelajaran.
Spiritual relation, syarat yang terakhir inilah yang paling puncak, di mana ketika semua sudah diusahakan kepasrahan adalah jalan yang benar. Disinilah letak bagaimana terjalin hubungan kita dengan sang Pencipta.
Inilah tiga prasyarat dan tujuh rahasia untuk dapat menyandang gelar “BAHAGIA” Sungguh, menjadi pribadi yang bahagia adalah kenikmatan yang luar biasa. Cermatilah bahwa kesenangan adalah ketika kita mendapatkan apa yang kita inginkan, sedangkan kebahagiaan adalah menginginkan apa yang kita dapatkan. Ya…kebahagiaan adalah pilihan yang jauh lebih baik. ^.^,,
Label:
motivasi
Minggu, 16 Januari 2011
# Akhir ini ada di tanganmu...
Dulu...memulai itu indah
Satu tingkat lebih indah dari merekahnya sayap merak…
Berjanji, seperti pagi
Selalu ada, menyejukkan...
Dimana? Dimana terbit itu? Sudah tak nampak rupanya...
Terlalu lama kau biarkan aku bercinta dengan malam
Menembus mimpi, tentang kisah adam dan hawa,
Mencegah semuanya untuk dimulai..
Ya, lebih baik begitu kiranya..
Kini, aku lebih tersiksa…
Hilang...kemana putih itu???
Aku bosan dengan warna-warna tua,
Bagaimana lagi bisa? Kau yang tau caranya…
Acuh, biarkan saja aku..
Menghitung 1,2,3,4,5,6 ,7,8,9,10,11 dst.
sampai kau bilang, “STOP!!!”
lalu kau minta kukalikan dengan nol
Tersadar…
Aku telah menyerahkan akhir ini di tanganmu..
Label:
curhatan
Minggu, 09 Januari 2011
# Ketika hati ini pun memilihmu...
Tau aq bahwa aurum, argentum, dan platinum adalah lebih dari logam-logam lainnya. Tapi kamu harus tau bahwa hati ini menunjuk KAMU, hanya kamu yang termulia. Bukan aku termasuk pengagum litotes, tapi sejatinya bintang itu memanglah tidak bersinar dari arahmu. Lalu, kenapa aku melihatmu begitu terang? ataukah kau bersekongkol dengan bintang jatuh untuk hadir dalam setiap tatapan itu? Aghhhhh…mungkin inilah rasa yang lebih...
Semakin dalam aku berfikir, tentang sebuah resonansi. Dia tidak akan pernah terjadi tanpa ada getaran benda lain, ya…dengan frekuensi yang sama tentunya. Seirama pula bahwa gaung pun akan begitu..diam…tidak ada ketika memang tidak ada pemicunya. Berbeda…, ingatan tentangmu mirip dengan perselisihan pendapat penciptaan telur dan ayam, selalu menjadi topik yang tak akan pernah ada habisnya…telur? ayam? AKU? KAMU? Aghhh… semakin dipikirkan semakin tidak mengerti kenapa dan bagaimana rasa ini ada. Apakah aku dan kamu memiliki rasa yang sama? Haruskah aku perduli…tidak sepertinya...
Faktorial (!), kamu membuatku bermain-main dengan itu. Sebuah perhitungan matematis yang menakdirkan suatu angka beroperasi dengan angka sebelumnya, lalu sebelumnya, dan sebelumnya lagi sampai satu. Ya, perkalian sudah barang tentu. Tentang “kita” sekarang adalah tentang kamu hari ini, kemarin, lalu kemarinnya lagi dan sampai sejak saat sejarah ini dimulai, tidak berdusta, tidak sirna, tidak sempurna...ya, aku bahagia...
Seharusnya, kamu tahu? Semestinya aku buka mata dan telingaku lebar-lebar supaya apa yang terlihat, apa yang terdengar dan apa yang otakku proses adalah apa yang ada saat ini. Bukan KAMU, KAMU, KAMU dan hanya KAMU. Ughhhh,,,sudah gila aku tampaknya.
Ingin aku pergi ke kutub utara, bertanya kepada semua yang ada di sana, lalu berbalik ke kutub selatan dan menanyakan hal yang sama tentang aku, tentang Cinta, tentang kamu dan “kita” apakah berbeda jawabnya??? Aku berhenti dan sejenak berfikir, bahwa jarak terjauh kita adalah di sini, di titik ini juga. Ya,,,dan seketika hati ini menjawab, “AKU PUN TELAH MEMILIHMU”. ^.^
Label:
curhatan
Senin, 03 Januari 2011
# Sebut saja PERMINTAAN..
Misteri, gila...semakin rapat, cepat kutolakkan peluru ke arahmu..Semakin kuat dan kokoh yang terjadi. Konstanta “x” pada persamaan linear 3 variabel. Apa itu? Bagaimana? Tentu...tidak ada pembenaran untuk mempertahankan “y” dan “z”, ya... memang begitu seharusnya. Dihapuskah? Diusirkah? Dihimbaukah? Susah nampaknya...Taukah bahwa setiap pertanyaan itu adalah untuk dijawab,,,Retoriskah? Itu pembelaan!!
Dia, atau kamu dan mungkin mereka, BUKAN AKU. Makhluk yang mempunyai simbol lingkaran berpanah. Hei,,,berhentilah berteka-teki. Ada 10 kotak disini, kenapa? Kenapa hanya 9 yang tepat menurutku. Aku yang keliru ataukah terlalu rumit sebenarnya...senang kalian dengan ini, ingin menambah lagi? Uhhhh....berguru dari nikotin rupanya.
Rumit, kau selalu bilang makhluk terindah di muka bumi itu rumit. Bukan, hanya sedikit lambat saja kalian dengan kepekaan. Ya, sepertinya aku membutuhkan cermin cekung, lalu meletakkan kalian tidak lebih jauh dari titik fokus. Setidaknya, fakta-fakta di jiwa dan pikiran kalian dapat tercermin lebih NYATA dan BESAR.
Lama, jauh sudah aq mencoba memisahkan imbuhan itu dari kata dasarnya. Mungkin akan dapat lebih mudah ditelusuri makna aslinya. Tapi,,,kenapa bisa terjadi...dapatkah kata berimbuhan terbuka dari kata berimbuhan juga? Mustahil saja rasanya. Rumit,,,ya kalian yang rumit....memikirkan dengan tidak sederhana dari sesuatu yang sangat sederhana. Apakah bukan itu yang namanya Rumit!!!
Bingung terkadang, bukan tidak tau sepertinya. Apakah bagian dari kedewasaan menurutmu? Tapi... malah kekanak-kanakan menurutku. Atau inilah yang dinamakan SIFAT? Semakin bingung saja tampaknya... Orang bilang, “memberilah jika engkau mau menerima”...yang terjadi? Kosong..ya, sepertinya tak ada harganya itu semua. Lebih parah lagi. Kritik kau bilang? Bukan....itu hanya sebuah kewajaran yang sedang diperjuangkan secara diam-diam, tapi tidak dimengerti sama sekali. Malah mencari-cari yang salah. Tau kamu, aq berjuang...berjuang untuk terus mengeluarkan lebah-lebah itu dari sarangnya. Lalu mengambil madunya dan menyiramkannya di hubungan ini. Ya, aku masih ingin bertahan.
Tapi, dengar...Aku juga ingin mengerti,,,ini bukan soal buah manggis yang isinya dapat diketahui sebelum dibelah. Ini soal manusia. Dengan komponen-komponen halusnya. Bisakah lebih jelas kalian memperlihatkannya kepada kami. Bukan apa-apa...ini penting!!! Kami ingin bahagia bersama kebahagiaan kalian...
Label:
curhatan
Minggu, 02 Januari 2011
# Diam...
Senyap…otakku menyeruak,
Ingin menggebrak suatu risalah
Tentang pertidaksamaan ini…
Cokelat, manis kaubilang,
Tidak! Pahit kupikir..
Tapi,,,cokelat itu sama disini,
masalah pangkal dan ujung lidah..mungkinnn…
Bebatuan itu terlerai, hancur,,,
Rapuh katamu,
Tidak! Hujan yang jahat menurutku..
Berbalik arah,,,Lihat kesini
Tidak! Kamu yang kulihat..
Lalu..
Ini? itu?
Benar? Salah?,,seharusnya? Aku, kamu?
Arghhhhh…DIAM!!!
Label:
curhatan
Langganan:
Komentar (Atom)



















