Cunduk waktu nu rahayu, niggang mangsa nu sampurna, niti wanci nu mustari...
Minggu, 24 April 2011
# Bangkit itu SUSAH,,tapi BISA!!!
Memori, salah satu unsur pembentuk perasaan. Meyakininya, ya 100%. “Aku ingin lepas dari semua ini!!!,” TIDAK! Bukan aku itu. Memori itu masih ada saat ini, tentang goresan kemarin. Lepas dari apa yang harus dihadapi saat ini, adalah suatu bukti ke-pengecut-an. Kesini, kemari…aku ingin berdamai saja dengan keadaan ini, tentu dengan kamu. Memetik hikmah, tidak ternikmati saat ini, tak apalah. Nanti, akan aku tanam kembali hingga tumbuh menjadi kenyataan yang benar-benar berprospek. Setidaknya, dengan buah yang lebih lebat. –TUJUAN-
Mencari letak perbedaan antara “susah” dan “tidak bisa” aku sekarang. Susah adalah satu keadaan sebelum bisa dan tidak bisa, sepertinya. Namun, Apakah tidak bisa selalu didahului dengan susah? Tidak, semoga. Ahhh,,yang jelas “susah” dan “tidak bisa” adalah sangat berbeda. Lalu, kunamai apa kondisi sekarang? Hanya berhenti pada susah lalu menyerah? Hendak melakukan kesalahan dua kali itu namanya. Fokus, fokus, fokus! Meletakannya pada kata BISA adalah pilihan terbaik. Ya…SUSAH tapi BISA..!
Bangkit.. katanya, “bangkitlah (n+1) kali, dimana “n” adalah jumlah terjatuh”. Berfikir, kenapa +1 itu harus ada? Bukannya kita akan bangkit ketika kita terjatuh? Equal seharusnya. Luput aku dari kenyataan bahwa hidup memang selalu dimulai dari kata bangkit. Bangkit, jatuh dan bangkit. Satu paket! Tidak untuk dimaknai dari kombinasi yang berbeda, tentunya…karena penafsirannya pun akan jauh berbeda.
Bertamasya sejenak, mengamati fenomena bola terjatuh. Ya, momentum, bertumbukan. Terjatuh, aku pun karena sebuah keadaan, kamu dan dia (mungkin), Kemudian tumbukan itu, tidak lenting, lenting sebagian, atau seluruhnya? Aku sangat berharap ada kelentingan disini, lalu..akankah aku seperti bola itu? Bangkit kembali, lihat… TERBATAS! ada koefisien restitusi disini. Umumnya, akan tidak bisa pantulan itu melebihi ketinggian semula. Haruskah aku puas dengan keadaan maksimal yang sama dengan kemarin? Ya…tak apalah, akan kuperjuangkan koefisien itu bernilai satu. LENTING SEMPURNA..
Sebentar… bukankah hidup itu sebuah proses? Proses dengan perbaikan dan perbaikan (seharusnya). Lalu, kenapa aku berfikir untuk mencapai keadaan yang sama? Bukankah itu yang disebut merugi? Perlu sebuah revisi di sini. Keluar aku dari fenomena “umumnya” tadi. Peristiwa itu, pengalaman itu, memori kemarin (sebab jatuh), bertanggungjawabkah kamu??? Hingga kemudian menghentikan setiap pantulan ini? menggenggam kuat-kuat aku lalu melemparkan kembali kepada kedudukan lebih tinggi dari semula? Ahhh…MUSTAHIL..tidak ada niatan ke arah itu kamu sepertinya.
Lalu bagaimana? Bermain-main sajalah aku dengan pikiran positif. Hingga dengan sendirinya mampu menjadi sumber energi, memberikan kecepatan tambahan pada pantulan berikutnya. Atau, lebih sempurnanya lagi, aku pun menemukan sebuah titik pantul pada bidang yang dinamis, bergerak, berkecepatan. Senantiasa menyadarkan aku, mendukung aku dan memungkinkan aku untuk mencapai satu tingkat lebih dalam sebuah kedewasaan. Terciptalah sebuah pantulan yang luar biasa. ya…karena koefisien itu pun akan mampu melebihi satu. Terpikir sempat, SUSAH memang, tapi BISA!!!..Insya ALLAH.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)



0 komentar:
Posting Komentar