Cunduk waktu nu rahayu, niggang mangsa nu sampurna, niti wanci nu mustari...
Minggu, 10 April 2011
# Kembalikan biasanya...
Mencintai…
Pilihan? Bukan! Tapi, jauh lebih baik tidak ada sajalah. Bukan karena takut, tapi menggenggam sebuah keberanian pun aku sudah bisa menebak imbasnya. Sebelah hati.
Mengerti…
Aku inginkan kamu --pria yang kumaksud-- membuka mata, sejenak lihat aku, luka. Berharap untuk terobati? Tidak… mengerti aku bahwa ini adalah sebuah keadaan cacat, sebaik apa pun nanti sebuah kenyataan.. akan tetap disini, menyakitkan. Berusaha membalut, sendiri, biar tanpa kamu. Tak ada kesembuhan, kepercayaan diri, hilang.
Mengharap…
Menjadi manusia tanpa “harapan” itu tragis. Tapi sekarang..menjadi manusia dengan “harapan” adalah jauh lebih tragis. Harapan tentang kamu! Mengumpulkan tenaga sekuat-kuatnya sekarang aku. Kembali meyakinkan diri bahwa manusia bodoh tentang apa yang dibutuhkannya. Keinginan itu, harapan-harapan kemarin, kamu, menyakitkan sangat. Sampai kapan? Haruskah dipertahankan bila hanya aku yang SADAR? Tuhan…ikhlas..ikhlas..ikhlas…berikan aku itu. Kerelaan.
Salah siapa?
Aku…MUTLAK!!! Menyalahkan aku atas ini semua, rasanya adalah kalimat yang sangat salah. Tapi, jauh lebih salah bila kamu kusalahkan. Ini keadaannya. Mengartikan sebuah keindahan dengan penafsiran tak berlogika. Aku pikir apa? Indah? Menyenangkan? Nyaman? Bahagia? Untuk apa? SAKIT?!!! Bodoh aku..memang. Mengulang lagi sebuah kebodohan? JERA.
Keliru…
Bila ini ujian. adalah saat terhancur dalam semua ujian. KELIRU. Sempat di sana aku, dalam sebuah keadaan penuh cahaya, warna, indah. Ternyata, tanpa kesengajaan (mungkin) kamu telah meminjamkan aku sebuah mimpi kemarin. Hanya MEMINJAMKAN. Ya, sekarang itu hak kamu. Ambil saja! Abaikan aku! tidak ada cara yang lebih bijak lagi.Biar…
Kepercayaan diri…
Tanpa arah. Bantu aku (untuk selain kamu) menemukan kembali diriku. Biasanya, aku tidak selemah ini. Biasanya, aku tidak serentan ini. Biasanya, senyum itu, semangat itu, optimis itu, ada disini. Ingin kembali kepada biasanya itu. Butuh waktu…butuh kamu? Tidak tau!
Keikhlasan..kesabaran...
Kembali kepada kedua kata inilah yang terbaik. Klise memang, biarlah. Berada dalam posisi HARUS berhenti. ya, BERHENTI! Bisakah bergandengan tangan itu melebihi 2? hei... jalan ini setapak..sempit..terlalu bodoh untuk melebarkan jalan ini..jurang di kedua tepinya. Majulah saja..biar saja aku berada di belakang, lalu melakukan invers dari arah semula. Bukan MUNDUR, hanya sedikit kembali untuk menemukan rute lain yang LEBIH LAPANG, TENANG, DAMAI, dan dapat dipertanggungjawabkan dengan benar.. InsyaALLOH...
Langganan:
Posting Komentar (Atom)



0 komentar:
Posting Komentar