Senin, 08 Agustus 2011

# Teruntuk kamu



Teruntuk kamu, kelak, makhluk yang tercerna baik oleh akal seorang manusia, “AKU”. Disini, terhantarkan dengan kemantapan hati atas ridho-Nya, mampu berposisi, membaca kebutuhan hati, melengkapi. Mendampingiku berotasi, menyingkap makna tentang berjuta perbedaan. Menyaksikan kenyataan hidup yang senantiasa bergerak, dinamis. Punctum proximum hingga punctum remotum dalam rentang sebuah pandangan, berakomodasi, kamulah pembimbing, harapku.

Teruntuk kamu, tanpa sebuah tuntutan untuk terlihat sempurna dimatamu, aku pun tak menuntut sempurnamu itu untukku. Bukan kamu atau pun aku. Sempurna itu adalah KITA. Di saat aku berkata “tidak” sedangkan “iya” adalah milikmu, kita akan berkata “TUKAR” lalu equilibrium pun tercipta untuk kita.

Baik, tentang semua hal yang kasat mata, bilang pada matamu, bahwa mataku tidak pernah melihat matamu dalam melihat aku sebagai sebuah morfologi. Ini bukan tentang financial statement yang mengharuskan adjusting entry untuk adjusted trial balance, penyesuaian aku terhadap inginmu tidak ada untuk hal ini, INILAH AKU. Yakinkan pula, bahwa matamu tidak pernah melihat mataku dalam melihat kamu sebagai hal yang sama, ya…tidak perlu juga ada penyesuainmu untukku, ITU KAMU, dan aku suka kamu.

Dan teruntuk kamu, ceritakan padaku tentang sebuah hikayat yang hendak engkau ciptakan bersamaku. Mulailah dengan sebuah sebab, mengapa kita bersama. Jangan hendak menciptakan hukum baru bahwa akibat itu dapat berdiri sendiri. Mustahil. Ingat, dewasa itu adalah sebuah kejujuran, kejujuran yang bertanggungjawab, semestinya. Katakan saja sebuah alasan, paling tidak, karena nanti “tanpa alasan” pun dapat menjadi alasan untuk suatu keberakhiran, takutku. Ungkapkan, karena itu adalah hak setiap burung untuk hinggap di mana saja, dan aku punya duri, tersembunyi, hak ku pula untuk melukaimu, yang hendak lukaiku. Berangkat dari sebab itu, rangkaikanlah untukku kalimat-kalimat bahagia, tanpa mengenal titik. Mustahil? Tidak! ini sebuah hikayat dengan imajinasi dan logika tanpa batas. Tentang kita.

Terakhir, teruntuk kamu, pilihku dan pilihanku. Keliling bumi itu terbatas, sudahlah pasti jalan berliku. Pilihku, kutumbuhkan pohon-pohon rindang sebagai pembatas di sepanjang perjalanan. Pilihanku, tunjukanlah sebuah rute menuju rahmat-Nya, tuntun, genggam, tanpa henti. AKU DAN KAMU. :D :) ;)

0 komentar: