Cunduk waktu nu rahayu, niggang mangsa nu sampurna, niti wanci nu mustari...
Rabu, 26 Januari 2011
# Bahagia itu SAYA
Kembali, dengan niat yang insya ALLAH tidak lain dan tidak bukan adalah suatu jalan perbaikan diri. Memberi, bukan sekedar itu. Di sini secara tidak langsung justru saya pun sedang mengkonsumsi sebuah nutrisi yang sungguh setiap inci di tubuh saya sangat memerlukannya. Vitamin kehidupan yang tidak terkandung secara terang-terangan dalam objek yang nyata. Melainkan, sebuah nyawa dari peristiwa yang orang sebut dengan takdir. Sebuah partikel halus yang dapat membimbing manusia mempertemukan dirinya dan kebahagiaannya.
Bahagia, orang sebut sebagai suatu perasaan yang menggairahkan dan membawa sel-sel di otak ke sebuah keadaan yang sangat menyenangkan. Padahal, saya berani bertaruh bahwa kebahagiaan itu bukan kesenangan. Mereka sangatlah berbeda!!! Kesenangan adalah merupakan penjelmaan dari sebuah keadaan yang nyaman, sebuah produk yang dicapai dari hal-hal yang bersifat fisik. Iya,,,sementara, tidak abadi, tidak langgeng. Datang dan pergi dalam sekedipan mata. Saya senang bermain musik, saya senang berolahraga, saya senang shopping, saya senang jalan-jalan. Tapi apakah senang itu akan terus ada? Apakah selama hidup kita shopping, jalan-jalan, olah raga? Tidak…hidup itu majemuk, hidup itu rangkaian, ya…proses bertahan, orang bilang. Ya, berhati-hatilah karena kesenangan sering menyamar menjadi kebahagiaan. Lalu, apa bedanya dengan kebahagiaan???
Kebahagiaan adalah SAYA. Jangan mencoba untuk membaliknya…karena akan jauh berbeda maknanya. Lebih luasnya, kebahagiaan adalah saya, otak saya, pikiran saya, dan perasaan saya. Ya, kebahagiaan itu “diciptakan” bukan “tercipta”. Kebahagiaan adalah suatu kesengajaan yang dapat diperjuangkan, bukan hanya sebagai sebuah respon yang pasif. Ya, kebahagiaan adalah bukti kecerdasan kita. Kecerdasan dalam memanage setiap stimulus dan menghalangi pembatasan amigdala terjadi. Pembatasan input menuju sel-sel neurotik (otak yang berpikir). Ulah amigdala inilah yang sering menghalangi pikiran jernih kita untuk mengendalikan respon secara lebih bijaksana, emosilah outputnya. Lalu, apakah kita harus bergantung pada kesenangan? Tidak!!! Justru penderitaan yang akan lebih banyak kita dapatkan. Perasaan memang sangatlah polos, ya…dia ibarat anak berumur tiga tahunan yang siap untuk menirukan apa yang orang lain perintahkan untuk disuarakan, dalam hitungan detik. Orang tuanya, dialah yang bertindak sebagai PIKIRAN, penuntun seharusnya. Tentu saja, bila dapat bertugas dengan baik.
Takdir? Adakah sebuah kepasrahan? Lauhul mahfuzlah yang berhak berbicara, Namun, sang Pencipta telah memprogramnya sebagai suatu dokumen rahasia . Legalnya, hanya Dia-lah yang mengetahui password-nya. Tidak usah membicarakan yang tidak legal di sini, ya…yang hendak dibicarakan sekarang adalah perihal takdir. Mengutip kata-kata Charles Reade :
Taburkan benih pikiran, kau akan menuai aksi
Taburkan benih aksi, kau akan menuai kebiasaan
Taburkan benih kebiasaan, kau akan menuai karakter
Taburkan benih karakter kau akan menuai takdir
Apa yang disebutkan di atas menegaskan bahwa sesungguhnya kitalah yang diberi wewenang untuk mengusahakan takdir. Nasib kita ada di tangan kita, lebih tepatnya ada di pikiran kita. Kekuatan terbesar kita ada pada memilih pikiran-pikiran. Ya, dari pikiranlah semuanya bermula. “Pemikiran yang baik tidak pernah membuahkan hasil yang buruk, pemikiran yang buruk tak pernah membuahkan hasil yang baik.”
Kita hebat karena kita bisa mengelola pikiran kita, begitulah singkatnya. Seingat saya ada dua teknik dalam mengelola pikiran. Yang pertama adalah mind booster, dan yang kedua adalah teknik lima kotak.
Mind booster, sebuah teknik pengelolaan berbasis 2 jalur. Pikirkan hal atau pikiran-pikiran yang berbau negatif lalu kemudian kita sulap menjadi positif. Hmmmh,,cara ini paling simple karena hanya melibatkan pikiran-pikiran saja. Apa yang disebut perasaan belumlah terwakili di sini. Berbeda dengan teknik mind booster, teknik lima kotak lebih luas lagi. Pilihlah sebuah kondisi, lalu telaah perasaan awal, lalu kemudian berlanjut ke pikiran, kemudian merenovasi pikiran tersebut menjadi pikiran yang baru dan pada akhirnya mampu menciptakan perasaan yang baru, lebih positif tentunya.
Pikiran-pikiran yang positif senantiasa melahirkan kebahagiaan. Kalimat ini murni adanya, tanpa rekayasa. Kebahagiaan yang tidak akan pernah termakan oleh hal-hal sepele yang terkadang dilebih-lebihkan. Ada rahasia di balik kebahagiaan itu sendiri. Rahasia yang seharusnya dibongkar dan disebarkan kepada seluruh umat di dunia. Energi-energi positif pun niscaya terpancar dari alam semesta ini.
Orang yang berbahagia adalah orang yang dapat berdamai dengan dirinya sendiri, orang lain dan dengan Tuhannya. Konsep ini terangkum dalam the 7 laws of happiness karya Arvan Pradiansyah. Intrapersonal relation, interpersonal relation dan spiritual relation. Pola 3-3-1 digunakan dalam perumusan rahasia ini. 3 syarat dalam intrapersonal relation, 3 syarat dalam interpersonal relation, dan yang terakhir 1 syarat dalam spiritual relation. Semuanya itu adalah wajib. Harus ada dan saling berkesinambungan. Ketika syarat satu terpenuhi barulah kita dapat melengkapi syarat selanjutnya.
Intrapersonal relation, mengusahakan kita untuk menjalin hubungan baik dengan diri kita sendiri. Berdamai, bersinergi dan bergerak bersama menuju tujuan inti hidup kita. Berdamai dengan diri kita sendiri itu tidaklah mudah, terkadang kita sendiri mengecap diri kita sebagai makhluk yang bodoh, tidak berguna, dan tidak berdaya. Inilah pikiran yang salah. Di setiap penciptaan pastilah ada makna. Ya, kita sangat berharga! Tiga rahasia dalam penciptaan hubungan ini adalah sabar (patient) , syukur (gratefulness) dan sederhana (simplicity).
Sabar bukan berarti tidak bergerak, sabar adalah kata kerja aktif. Sabar adalah sebuah produk dari penundaan respon dengan lebih dahulu meyakinkan mana respon yang paling tepat untuk dikeluarkan. Sabar adalah sebuah kekuatan yang maha dahsyat. Kesabaran kita akan meningkat melebihi kekuatan kita, begitu kata Edmund Burke. Sabar juga yang menyatukan badan dan pikiran di satu tempat, menikmati proses tanpa terganggu dengan hasil akhir. Setelah bergelut dengan sabar saatnya kita mensyukuri apa yang Tuhan gariskan untuk kita, Ya..syukur.Tiga musuh besar bagi manusia adalah penyesalan di masa lalu, ketakutan akan hari esok dan tidak adanya rasa syukur untuk hari ini. Bahasa negatif seperti itu harus dimusnahkan. Untuk mensyukuri kunci utamanya adalah pikirkan apa yang ada hari ini, bukan semata-mata apa yang diinginkan. Bahkan di saat kita susah sekalipun bersyukur adalah hal yang diharuskan. Perasaan kehilangan mungkin menyedihkan, tapi renungkanlah bahwa “if you loose, don’t loose the lesson” bersyukurlah!
Interpersonal relation, setingkat lebih tinggi dari intrapersonal relation. Ketika intrapersonal relation merujuk pada penerimaan, interpersonal relation merujuk pada apa yang kita berikan terhadap orang lain. Tiga rahasia dari interpersonal relation itu sendiri adalah kasih (love), memberi (give) dan memaafkan (forgive).
Kasih atau cinta, kata yang sangat populer dan menjadi tema populer di kalangan sinetron, lagu, novel. Pokoknya, tema yang tidak ada matinya. Lalu, cinta yang bagaimana yang dimaksud dsini? Bukanlah cinta birahi tentunya. Namun, cinta yang berasal dari nurani. Sebuah perasaan untuk bisa memahami yang lain sejajar bahkan melebihi diri sendiri. Abadi tentunya. Bahasa kasih adalah memberi, tentu saja. Ketika kita berani mengatakan mencintai berarti kita harus menjalankan konsekuensinya untuk berbahagia bersama orang lain atau lebih tepatnya lagi membahagiakan orang lain. Level dari pemberian itu sendiri ada empat tingkatan. Urutan terendah ditempati oleh materi lalu kemudian perhatian setelah itu kesempatan dan level tertinggi adalah pemberdayaan. Rahasia yang terakhir dalam perwujudan interpersonal relation adalah memaafkan. Sungguh, memaafkan orang yang telah membuat luka di hati kita adalah sulit. Namun, ketika kita tidak mau memaafkan orang lain hanyalah merugikan diri kita sendiri. Apakah dengan tidak dimaafkan lantas hati kita tidak akan merasakan sakit? Atau kita bisa kembali dan mencegah keskitan itu terjadi. Bodoh rasanya. Yang perlu digarisbawahi adalah memaafkan tidaklah sama dengan melupakan. Ya, tetaplah mengingat moment itu dan jadikanlah sebuah pelajaran.
Spiritual relation, syarat yang terakhir inilah yang paling puncak, di mana ketika semua sudah diusahakan kepasrahan adalah jalan yang benar. Disinilah letak bagaimana terjalin hubungan kita dengan sang Pencipta.
Inilah tiga prasyarat dan tujuh rahasia untuk dapat menyandang gelar “BAHAGIA” Sungguh, menjadi pribadi yang bahagia adalah kenikmatan yang luar biasa. Cermatilah bahwa kesenangan adalah ketika kita mendapatkan apa yang kita inginkan, sedangkan kebahagiaan adalah menginginkan apa yang kita dapatkan. Ya…kebahagiaan adalah pilihan yang jauh lebih baik. ^.^,,
Langganan:
Posting Komentar (Atom)



0 komentar:
Posting Komentar