Rabu, 21 Desember 2011

# Pembuktian / Pengkhianatan...

Seperti dipaksa untuk menutup mata melihat ke arahmu. Mau dan tidak mau, harus, dan ternyata tidak mampu. KAMU PERGI..



Kamu bilang, selalu bersama, dulu saat legenda ini baru kita rangkai satu babak.Kini??? kamu mendeklarasikan sebuah kemerdekaan sepihak tanpa aku. Kamu mandatkan aku untuk menamatkan kisah ini sendiri. Tanpa Kamu...




Tega, aku pikir kamu itu.
Kamu persembahkan sebuah hadiah terpahit di hidupku. Ingin sekali aku teriakan ketidakberuntunganku ini agar sang Elang terbang ke arahmu, mencakar-cakar paradigmamu lalu kemudian mencairkan keputusan tersadis yang kau ikrarkan padaku.

Bebas..Lepas...menjauh, terhantarkan oleh kebencianmu terhadapku. Kamu telah memvonis aku tentang sebuah karakter. Hipotesa sementara pun telah kamu definitifkan untuk melabeli aku dengan sebuah watak. Watak yang kamu takutkan secara berlebihan. Harus bagaimana aku menjelaskan??? Kamu terlanjur memilih untuk menjadi penunjuk arah utara, sementara aku terdampar di kutub selatan. Akankah selamanya kita semakin menjauh?



Takdirku, diam disini. Setangkai dahan yang lengang, gersang, tanpa warna dan keindahan (lagi). Dengan seizinku, kamu berhasil mencabik-cabik bunga-bunga disini, rusak...habis...hilang...yang tinggal hanya seonggok jamur beracun, destroying angel..!!!

Sementara itu, kamu lebih memilih menjadi pelatuk, bermisteri, terbang bebas. Dengan insting (tak berperasaan) kamu semakin bertolak mencari dahan-dahan lain yang lebih teduh, indah, kuat dan sanggup puaskan inginmu, pikirmu.




Menangis aku dalam hati. Labelku telah kamu lekatkan sangat erat di setiap sudut penglihatan dan pemikiranmu. Kamu memilih untuk bertindak pragmatis. Aku Salah, mungkin...

AKU TIDAK RELA!!! dan tidak akan pernah bisa merelakan kamu pergi..(dengan sebuah alasan). Dan pasti kamu tahu itu.


Tapi aku bisa apa??? Memohon? Kamu bukan Tuhan...Hendak mengirimkan sepucuk surat saja aku kepada-Nya. Memohon,, agar kelak Dia membisikimu tentang sebuah kenyataan. Disini ada aku, setangkai dahan terkuat yang telah terdustai dan terlukai. Diam,,,dan kediamanku ini hingga nanti adalah sebuah penantian yang akan berbatas pada 2 tepi "PEMBUKTIAN/ PENGKHIANATAN."

Rabu, 10 Agustus 2011

# ARUS..



Berbicara sedikit tentang hakikat sebuah arus. Seingatku, kata mereka, arus itu adalah kondisi bergerak. Lalu, apakah arus itu mengenal kita? Bukankah arus itu sebuah penghubung? Apakah dia memilah-milah tentang siapa dan kondisi bagaimana yang hendak terhubung? TIDAK sepertinya.

Arus itu bukan tanpa arah, tidak tentu arah bisa jadi. Disini yang membedakan antara tahu, pura-pura tahu, tidak tahu, atau pura-pura tidak tahu. Hei, aku sepertinya tidak masuk golongan mana pun. Sepertinya, aku tidak tahu kalau aku tahu, pura-pura tahu, tidak tahu atau pura-pura tidak tahu. Hufthhh,, ini mungkin definisi bingung dari seorang yang miskin pengalaman. Butuh bimbingan. Sempat proses pemikiran ini menghasilkan sebuah keadaan pasrah, sampai kapan? Sampai pada saat tidak ada lagi hakku atas pembelaan? Tolong, aku tidak ingin membentuk trio atas nama aku, terlambat dan penyesalan.

Arus, setauku arus itu adalah jelmaan dari sebuah hukum tarik menarik, 2 buah kondisi. Tidak pernah mengenal kondisi seperti apa keduanya dan materi apa yang menjadi obyek sasarannya. Arus itu egois, berjalan tanpa terpengaruh oleh pengekangan, paksaan, apalagi hanya sekedar himbauan. Seyogyanya, arus itu telah terbentuk secara natural, tetapi tidak sedikit jalur-jalur yang sengaja dibentuk sintetisnya oleh kaum-kaum "cerdik" ya...dan inilah yang disebut rel kehidupan, baik atau buruk. Yang natural dan menjanjikan kemaslahatan bisa jadi mungkin terkucilkan dan secara paksa dikedoki dengan wajah sintetis. Wajah yang menjanjikan kebaikan bagi sebagian atau banyak pihak tanpa memperhitungkan semakin banyak pihak yang tengah tersendat batu-batu besar di tengah arus yang deras.

Lalu, apakah bisa keberlanjutan tercipta bila keegoisan dilawan dengan keegoisan? Tentu tidak. Manusialah korbannya. Kenapa manusia? Ya…karena makhluk hidup lainnya tidaklah punya akal untuk mengerti arah serta kombinasi dari keadaan baik dan tidak baik.

Korban adalah pihak yang menanggung sebuah akibat. Ya, ketika kebaikan didapatkan, “diuntungkan” sepertinya tampak sebagai pilihan kata yang paling tepat. Itulah manusia, tidak sadar terkadang bahwa predikat manusia yang baik sedang dipertaruhkan. Bilang "tahu" itu juga susah bagi orang-orang yang masuk dalam golongan perumus dan pengesah arus sintesis. Asas simbiosis mutualisme gadungan menjadi andalannya, ya..lalu berkilah dengan segala perbendaharaan kalimat yang memesona. Ketidaksempurnaan manusia jadi tamengnya. Bila "tahu" tetapi pura-pura "tidak tahu" apakah bisa disebut sebagai bagian dari ketidaksempurnaan manusia? Bukankah itu namanya PEMBUAL? Hmmmh…entahlah..

Menjadi korban di antara berjuta kesadaran lalu "membawa" diri ke arah arus menuju kondisi yang lebih buruk, itu menakutkan. Namun, menjadi korban dari ketidaktahuan tentang arah sebuah arus dan "ter"bawa, itu yang jauh lebih menakutkan. Lalu apakah harus merelakan untuk mengorbankan? Tuhan… Engkau yang tahu niatku, serta baik dan buruknya untukku. Tunjukanlah…

Senin, 08 Agustus 2011

# Teruntuk kamu



Teruntuk kamu, kelak, makhluk yang tercerna baik oleh akal seorang manusia, “AKU”. Disini, terhantarkan dengan kemantapan hati atas ridho-Nya, mampu berposisi, membaca kebutuhan hati, melengkapi. Mendampingiku berotasi, menyingkap makna tentang berjuta perbedaan. Menyaksikan kenyataan hidup yang senantiasa bergerak, dinamis. Punctum proximum hingga punctum remotum dalam rentang sebuah pandangan, berakomodasi, kamulah pembimbing, harapku.

Teruntuk kamu, tanpa sebuah tuntutan untuk terlihat sempurna dimatamu, aku pun tak menuntut sempurnamu itu untukku. Bukan kamu atau pun aku. Sempurna itu adalah KITA. Di saat aku berkata “tidak” sedangkan “iya” adalah milikmu, kita akan berkata “TUKAR” lalu equilibrium pun tercipta untuk kita.

Baik, tentang semua hal yang kasat mata, bilang pada matamu, bahwa mataku tidak pernah melihat matamu dalam melihat aku sebagai sebuah morfologi. Ini bukan tentang financial statement yang mengharuskan adjusting entry untuk adjusted trial balance, penyesuaian aku terhadap inginmu tidak ada untuk hal ini, INILAH AKU. Yakinkan pula, bahwa matamu tidak pernah melihat mataku dalam melihat kamu sebagai hal yang sama, ya…tidak perlu juga ada penyesuainmu untukku, ITU KAMU, dan aku suka kamu.

Dan teruntuk kamu, ceritakan padaku tentang sebuah hikayat yang hendak engkau ciptakan bersamaku. Mulailah dengan sebuah sebab, mengapa kita bersama. Jangan hendak menciptakan hukum baru bahwa akibat itu dapat berdiri sendiri. Mustahil. Ingat, dewasa itu adalah sebuah kejujuran, kejujuran yang bertanggungjawab, semestinya. Katakan saja sebuah alasan, paling tidak, karena nanti “tanpa alasan” pun dapat menjadi alasan untuk suatu keberakhiran, takutku. Ungkapkan, karena itu adalah hak setiap burung untuk hinggap di mana saja, dan aku punya duri, tersembunyi, hak ku pula untuk melukaimu, yang hendak lukaiku. Berangkat dari sebab itu, rangkaikanlah untukku kalimat-kalimat bahagia, tanpa mengenal titik. Mustahil? Tidak! ini sebuah hikayat dengan imajinasi dan logika tanpa batas. Tentang kita.

Terakhir, teruntuk kamu, pilihku dan pilihanku. Keliling bumi itu terbatas, sudahlah pasti jalan berliku. Pilihku, kutumbuhkan pohon-pohon rindang sebagai pembatas di sepanjang perjalanan. Pilihanku, tunjukanlah sebuah rute menuju rahmat-Nya, tuntun, genggam, tanpa henti. AKU DAN KAMU. :D :) ;)

Kamis, 26 Mei 2011

# Tentang sebuah "KETEPATAN"...




Takut, melihat ke arah itu, secara tidak tepat pun dengan antara beberapa derajat, sama saja…GETAR. Perfusi terhambat. Sempat berdiskusi dengan sirkulasi oksigen, belum selesai… terjerat kembali ternyata dengan sebuah kemungkinan. Arghhhhh…harus bagaimana? Menyangkal pun, munafik pun, pura-pura pun, aku yang tau sekenario ini, ya..sekedar tau. Tidak untuk mengatur, “kadang”.

Menemukan rangkaian huruf vokal (lagi), mengadopsinya dalam penyempurnaan arti. Tidak selamanya tepat itu terjadi karena sebuah kelengkapan, ya… ada formasi, peletakan susunan yang menentukan fungsi itu benar. Rekayasa untuk terlihat sempurna dan layak? Kesalahan terdahulu pelajarannya…seharusnya!!!

Menimbang…menghilangkan diri atau menghilangkannya ? Seperti hendak membuat satu musim saja di bumi,,,hufthhh..merugi aku nanti.

Untung, rugi… ?? Hidup itu pertukaran. Jalani sajalah dengan yakin. Dengar aku sebentar kawan, yang menarik saat ini adalah tentang ketertarikan. Bermula dari manakah? obyek atau subyek? Ditarik atau membuat menjadi tertarik? Hukum tarik menarik itu ada di alam semesta, tolak menolak pun begitu katanya. Lalu, bisakah memilih untuk mana kedua hukum ini bekerja? Ah,,,enak saja!

Terlepas dari sebab, alasan dan teman-temannya, nampaknya sudah tidak ingin merasa-rasa dan memikir-mikirkan sebuah “ketertarikan” tapi lebih pada sebuah “ketepatan”. Ya, aku tertarik! Karena APA? Ulah siapa? aku atau dia? Entahlah..tidak mau terlalu dalam menggalinya karena bicara soal rasa, akan kembali pada kondisi tidak mengerti lagi nanti, abstraksi-nya begitu membingungkan. Lebih baik mengalir….dan bermuara nanti pada dua kenyataan : “TEPAT” atau “TIDAK TEPAT”….:-D :-) ;-)

Sabtu, 30 April 2011

# MAAF belum memaafkan...



Mematahkan kejujuran, Bijak?
Ketidabergunaan, kepercumaan, tidak ada harusnya!
Probabilitas itu tak menjumpai nol, yakin aku.
Lalu, TAKUT? Ahhh,,,lihat sekarang jadinya!

Metafora lalu, Tak terkaji,
Untuk kamu, denotasi jauh lebih baik!!
Terjemahkan aku. Dari dulu, berhasil kamu.
Sebaliknya, terjemahkan kamu. GAGAL!

Retorika kosong nyatanya.
Bermotivasi—sepertinya--entahlah…apa di balik sana.
Sebenarnya.
Keberanianku pun ditangani dengan salah oleh kamu..
Kemudian, akhirnya? Tidak adalah tanpa mulai.
Menyesakkan, pastinya.

Kamu, karena kamu.
Seharusnya, seharusnya, seharusnya..
Banyak kondisi salah di sini.
Erupsi produknya…
Coba berani membuat sebuah retakan, jalan, dulu..
Keluar…
Lelehan tanpa ledakan!
Berbeda sakitnya, pasti.

Faktanya!
Sempat memiliki yang tak termiliki.
Merasakan yang tak terasa.
Dengan tidak sadar,
dan tanpa disadarkan. JAHAT.

Kata-kata, mudah terangkai pun untuk dilontarkan.
Termasuk MEMAAFKAN.
Namun, separatisme dari unsur hati ini luar biasa berdaya.
Penolakan, mencari arah dan kebijakan sendiri
Jujur, belum bisa sepertinya..MAAF...

Minggu, 24 April 2011

# Bangkit itu SUSAH,,tapi BISA!!!





Memori, salah satu unsur pembentuk perasaan. Meyakininya, ya 100%. “Aku ingin lepas dari semua ini!!!,” TIDAK! Bukan aku itu. Memori itu masih ada saat ini, tentang goresan kemarin. Lepas dari apa yang harus dihadapi saat ini, adalah suatu bukti ke-pengecut-an. Kesini, kemari…aku ingin berdamai saja dengan keadaan ini, tentu dengan kamu. Memetik hikmah, tidak ternikmati saat ini, tak apalah. Nanti, akan aku tanam kembali hingga tumbuh menjadi kenyataan yang benar-benar berprospek. Setidaknya, dengan buah yang lebih lebat. –TUJUAN-


Mencari letak perbedaan antara “susah” dan “tidak bisa” aku sekarang. Susah adalah satu keadaan sebelum bisa dan tidak bisa, sepertinya. Namun, Apakah tidak bisa selalu didahului dengan susah? Tidak, semoga. Ahhh,,yang jelas “susah” dan “tidak bisa” adalah sangat berbeda. Lalu, kunamai apa kondisi sekarang? Hanya berhenti pada susah lalu menyerah? Hendak melakukan kesalahan dua kali itu namanya. Fokus, fokus, fokus! Meletakannya pada kata BISA adalah pilihan terbaik. Ya…SUSAH tapi BISA..!


Bangkit.. katanya, “bangkitlah (n+1) kali, dimana “n” adalah jumlah terjatuh”. Berfikir, kenapa +1 itu harus ada? Bukannya kita akan bangkit ketika kita terjatuh? Equal seharusnya. Luput aku dari kenyataan bahwa hidup memang selalu dimulai dari kata bangkit. Bangkit, jatuh dan bangkit. Satu paket! Tidak untuk dimaknai dari kombinasi yang berbeda, tentunya…karena penafsirannya pun akan jauh berbeda.


Bertamasya sejenak, mengamati fenomena bola terjatuh. Ya, momentum, bertumbukan. Terjatuh, aku pun karena sebuah keadaan, kamu dan dia (mungkin), Kemudian tumbukan itu, tidak lenting, lenting sebagian, atau seluruhnya? Aku sangat berharap ada kelentingan disini, lalu..akankah aku seperti bola itu? Bangkit kembali, lihat… TERBATAS! ada koefisien restitusi disini. Umumnya, akan tidak bisa pantulan itu melebihi ketinggian semula. Haruskah aku puas dengan keadaan maksimal yang sama dengan kemarin? Ya…tak apalah, akan kuperjuangkan koefisien itu bernilai satu. LENTING SEMPURNA..


Sebentar… bukankah hidup itu sebuah proses? Proses dengan perbaikan dan perbaikan (seharusnya). Lalu, kenapa aku berfikir untuk mencapai keadaan yang sama? Bukankah itu yang disebut merugi? Perlu sebuah revisi di sini. Keluar aku dari fenomena “umumnya” tadi. Peristiwa itu, pengalaman itu, memori kemarin (sebab jatuh), bertanggungjawabkah kamu??? Hingga kemudian menghentikan setiap pantulan ini? menggenggam kuat-kuat aku lalu melemparkan kembali kepada kedudukan lebih tinggi dari semula? Ahhh…MUSTAHIL..tidak ada niatan ke arah itu kamu sepertinya.


Lalu bagaimana? Bermain-main sajalah aku dengan pikiran positif. Hingga dengan sendirinya mampu menjadi sumber energi, memberikan kecepatan tambahan pada pantulan berikutnya. Atau, lebih sempurnanya lagi, aku pun menemukan sebuah titik pantul pada bidang yang dinamis, bergerak, berkecepatan. Senantiasa menyadarkan aku, mendukung aku dan memungkinkan aku untuk mencapai satu tingkat lebih dalam sebuah kedewasaan. Terciptalah sebuah pantulan yang luar biasa. ya…karena koefisien itu pun akan mampu melebihi satu. Terpikir sempat, SUSAH memang, tapi BISA!!!..Insya ALLAH.

Minggu, 10 April 2011

# Kembalikan biasanya...


Mencintai…
Pilihan? Bukan! Tapi, jauh lebih baik tidak ada sajalah. Bukan karena takut, tapi menggenggam sebuah keberanian pun aku sudah bisa menebak imbasnya. Sebelah hati.

Mengerti…
Aku inginkan kamu --pria yang kumaksud-- membuka mata, sejenak lihat aku, luka. Berharap untuk terobati? Tidak… mengerti aku bahwa ini adalah sebuah keadaan cacat, sebaik apa pun nanti sebuah kenyataan.. akan tetap disini, menyakitkan. Berusaha membalut, sendiri, biar tanpa kamu. Tak ada kesembuhan, kepercayaan diri, hilang.

Mengharap…
Menjadi manusia tanpa “harapan” itu tragis. Tapi sekarang..menjadi manusia dengan “harapan” adalah jauh lebih tragis. Harapan tentang kamu! Mengumpulkan tenaga sekuat-kuatnya sekarang aku. Kembali meyakinkan diri bahwa manusia bodoh tentang apa yang dibutuhkannya. Keinginan itu, harapan-harapan kemarin, kamu, menyakitkan sangat. Sampai kapan? Haruskah dipertahankan bila hanya aku yang SADAR? Tuhan…ikhlas..ikhlas..ikhlas…berikan aku itu. Kerelaan.

Salah siapa?
Aku…MUTLAK!!! Menyalahkan aku atas ini semua, rasanya adalah kalimat yang sangat salah. Tapi, jauh lebih salah bila kamu kusalahkan. Ini keadaannya. Mengartikan sebuah keindahan dengan penafsiran tak berlogika. Aku pikir apa? Indah? Menyenangkan? Nyaman? Bahagia? Untuk apa? SAKIT?!!! Bodoh aku..memang. Mengulang lagi sebuah kebodohan? JERA.

Keliru…
Bila ini ujian. adalah saat terhancur dalam semua ujian. KELIRU. Sempat di sana aku, dalam sebuah keadaan penuh cahaya, warna, indah. Ternyata, tanpa kesengajaan (mungkin) kamu telah meminjamkan aku sebuah mimpi kemarin. Hanya MEMINJAMKAN. Ya, sekarang itu hak kamu. Ambil saja! Abaikan aku! tidak ada cara yang lebih bijak lagi.Biar…

Kepercayaan diri…
Tanpa arah. Bantu aku (untuk selain kamu) menemukan kembali diriku. Biasanya, aku tidak selemah ini. Biasanya, aku tidak serentan ini. Biasanya, senyum itu, semangat itu, optimis itu, ada disini. Ingin kembali kepada biasanya itu. Butuh waktu…butuh kamu? Tidak tau!

Keikhlasan..kesabaran...
Kembali kepada kedua kata inilah yang terbaik. Klise memang, biarlah. Berada dalam posisi HARUS berhenti. ya, BERHENTI! Bisakah bergandengan tangan itu melebihi 2? hei... jalan ini setapak..sempit..terlalu bodoh untuk melebarkan jalan ini..jurang di kedua tepinya. Majulah saja..biar saja aku berada di belakang, lalu melakukan invers dari arah semula. Bukan MUNDUR, hanya sedikit kembali untuk menemukan rute lain yang LEBIH LAPANG, TENANG, DAMAI, dan dapat dipertanggungjawabkan dengan benar.. InsyaALLOH...