Seperti dipaksa untuk menutup mata melihat ke arahmu. Mau dan tidak mau, harus, dan ternyata tidak mampu. KAMU PERGI..
Kamu bilang, selalu bersama, dulu saat legenda ini baru kita rangkai satu babak.Kini??? kamu mendeklarasikan sebuah kemerdekaan sepihak tanpa aku. Kamu mandatkan aku untuk menamatkan kisah ini sendiri. Tanpa Kamu...
Tega, aku pikir kamu itu.
Kamu persembahkan sebuah hadiah terpahit di hidupku. Ingin sekali aku teriakan ketidakberuntunganku ini agar sang Elang terbang ke arahmu, mencakar-cakar paradigmamu lalu kemudian mencairkan keputusan tersadis yang kau ikrarkan padaku.
Bebas..Lepas...menjauh, terhantarkan oleh kebencianmu terhadapku. Kamu telah memvonis aku tentang sebuah karakter. Hipotesa sementara pun telah kamu definitifkan untuk melabeli aku dengan sebuah watak. Watak yang kamu takutkan secara berlebihan. Harus bagaimana aku menjelaskan??? Kamu terlanjur memilih untuk menjadi penunjuk arah utara, sementara aku terdampar di kutub selatan. Akankah selamanya kita semakin menjauh?
Takdirku, diam disini. Setangkai dahan yang lengang, gersang, tanpa warna dan keindahan (lagi). Dengan seizinku, kamu berhasil mencabik-cabik bunga-bunga disini, rusak...habis...hilang...yang tinggal hanya seonggok jamur beracun, destroying angel..!!!
Sementara itu, kamu lebih memilih menjadi pelatuk, bermisteri, terbang bebas. Dengan insting (tak berperasaan) kamu semakin bertolak mencari dahan-dahan lain yang lebih teduh, indah, kuat dan sanggup puaskan inginmu, pikirmu.
Menangis aku dalam hati. Labelku telah kamu lekatkan sangat erat di setiap sudut penglihatan dan pemikiranmu. Kamu memilih untuk bertindak pragmatis. Aku Salah, mungkin...
AKU TIDAK RELA!!! dan tidak akan pernah bisa merelakan kamu pergi..(dengan sebuah alasan). Dan pasti kamu tahu itu.
Tapi aku bisa apa??? Memohon? Kamu bukan Tuhan...Hendak mengirimkan sepucuk surat saja aku kepada-Nya. Memohon,, agar kelak Dia membisikimu tentang sebuah kenyataan. Disini ada aku, setangkai dahan terkuat yang telah terdustai dan terlukai. Diam,,,dan kediamanku ini hingga nanti adalah sebuah penantian yang akan berbatas pada 2 tepi "PEMBUKTIAN/ PENGKHIANATAN."
Cunduk waktu nu rahayu, niggang mangsa nu sampurna, niti wanci nu mustari...
Rabu, 21 Desember 2011
Langganan:
Komentar (Atom)






